You are currently browsing the category archive for the 'Artikel' category.
21 April adalah Hari Hutan Sedunia. 22 April adalah Hari Bumi Sedunia. Keduanya berkaitan. Tetapi hanya 22 April yang ‘agak’ digembar-gemborkan di Indonesia. Hari Hutan tidak pernah dibahas. Mengapa? Apakah karena orang Indonesia malu punya hutan yang semakin musnah dengan cepat? Apakah karena orang Indonesia malu hutannya menjadi sumber asap di musim kering dan menjadi sumber banjir di musim hujan?
Kebakaran hutan dan lahan seakan sudah menjadi tradisi tahunan di Indonesia. Setiap tahunnya dalam musim kemarau, hampir berturut-turut, kejadian kebakaran hutan dan lahan berulang dengan berbagai tingkatan. Pada tahun 2002 dan 2005, kebakaran hutan dan lahan terjadi kembali dengan skala yang cukup besar terutama diakibatkan oleh konversi hutan di lahan gambut. Dari data yang terkumpul terhitung sejak 1997-1998, rata-rata 80% kebakaran hutan dan lahan terjadi di lahan gambut. Data yang dianalisis WWF-Indonesia menunjukkan bahwa di Provinsi Kalimantan Tengah mayoritas kejadian kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2002-2003 terjadi di lahan gambut, sedangkan di Provinsi Riau dalam periode tahun 2001-2006, sekitar 67% hotspots (titik panas) terjadi di lahan gambut. Pada kejadian kebakaran berskala besar di tahun 1997-1998, diestimasi sekitar 10 juta hektar lahan yang rusak atau terbakar, dengan kerugian untuk Indonesia terhitung 3 milyar dollar Amerika. Kejadian ini sekaligus melepaskan emisi gas rumah kaca (GRK) sebanyak 0,81-2,57 Gigaton karbon ke atmosfer (setara dengan 13-40% total emisi karbon dunia yang dihasilkan dari bahan bakar fosil per tahunnya) yang berarti menambah kontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global.
Peningkatan suhu ini akan terus berlanjut apabila tidak ada upaya nyata untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (Murdiyarso, 2003). Setiap gas rumah kaca memberikan dampak pemanasan global yang berbeda. Kontribusi gas rumah kaca di Indonesia ke atmosfir dari aktivitas manusia yang meliputi perubahan tataguna lahan dan kerusakan hutan adalah 63 %, pemanfaatan bahan bakar fosil 25 % dan sisanya berasal dari industri, pertanian dan peternakan, serta sampah. Pemanfaatan energi bahan bakar fosil yang berlebihan dan kerusakan hutan yang disebabkan oleh illegal loging dan kebakaran merupakan sumber utama GRK.
Beberapa dampak pemanasan global antara lain, berkurangnya luasan daratan dan hilangnya pulau-pulau kecil, meluasnya kerusakan hutan mangrove, banjir karena peningkatan curah hujan pada periode pendek, punahnya flora dan fauna tertentu, penurunan hasil perikanan dan pertanian.
Apa fakta yang ada?? Suhu permukaan laut, kunci penentu intensitas kekuatan badai, telah meningkat 0,5°C dalam 35 tahun terakhir ini. Hal ini menunjukan adanya hubungan terjadinya badai dengan pemanasan global. Dalam kurun waktu tersebut, badai lebih sering terjadi dan bertenaga dua kali lebih kuat dari biasanya. Air memang banyak di bumi ini, namun air yang dapat diolah untuk digunakan dalam kegiatan sehari-hari semakin sulit.
Mungkin pemanasan global ini tak dapat dihentikan, akan tetapi dapat dikurangi dengan hal-hal seperti misalnya :
Kurangi pemakaian bahan bakar minyak, yang merupakan penyebab utama terjadinya efek rumah kaca (salah satu pemicu naiknya suhu bumi). Lakukan konservasi hutan dan penghijauan lingkungan sekitar dengan menanam banyak tumbuhan untuk menghambat proses pemanasan global. Minimalkan pemakaian alat yang mengandung CFC karena tidak hemat energi dan jadi penyebab efek rumah kaca. (Frh)
Himpunan Profesi Tree Grower Community Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) menyelenggarakan kegiatan Aku Cinta Menanam dengan tema “Bring Better Future For Next Generation” Rabu (30/4) di Kampus IPB Darmaga. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka peringatan hari bumi.
Acara ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa Departemen Silvikultur terhadap permasalahan dan tantangan pemanasan global yang akhir-akhir ini menjadi fokus negara-negara di dunia. Diharapkan dari kegiatan ini tumbuh rasa cinta terhadap lingkungan sejak din dan memberikan masa depan yang lebih baik untuk generasi berikutnya. Peserta kegiatan ini adalah siswa-siswi TK Agriananda.
Acara ini dihadiri Ketua Departemen Silvikultur, Dr. Ir. Irdika Mansur, MFor.Sc dan Kepala Sekolah TK Agriananda, Ibu Jihad . Dalam kesempatan itu, Ibu Jihad menanam pohon jenis Matoa (Pometia pinnata) di depan TK Agriananda secara simbolis. Kegiatan penanaman yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut berlangsung lancar. Siswa-siswi TK Agriananda sangat menikmati bagaimana cara menanam berbagai macam jenis pohon. “Simbol O2 dan CO2 sebagai penghias bibit, sengaja digantung, untuk memberikan pengetahuan bahwa sebuah pohon menghasilkan oksigen (O2) dan menyerap karbon dioksida (CO2),” ujar Ketua Pelaksana, Doddy Juli Irawan, Mahasiswa Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB.
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) atau jamur tiram putih adalah jamur pangan dengan tudung berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung dan berwarna putih hingga krem.
Tubuh buah memiliki batang yang berada di pinggir (bahasa Latin: pleurotus) dan bentuknya seperti tiram (ostreatus), sehingga jamur tiram mempunyai nama binomial Pleurotus ostreatus. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii atau King Oyster Mushroom.
Tubuh buah mempunyai tudung yang berubah dari hitam, abu-abu, coklat, hingga putih dengan permukaan yang hampir licin dengan diameter 5-20 cm. Tepi tudung mulus sedikit berlekuk. Spora berbentuk batang berukuran 8-11×3-4μm. Miselium berwarna putih dan bisa tumbuh dengan cepat.
Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang.
Pembudidayaan jamur tiram biasanya dilakukan dengan media tanam serbuk gergaji.
Selain campuran pada berbagai jenis masakan, jamur tiram merupakan bahan baku obat statin.
Jamur tiram diketahui membunuh dan mencerna nematoda yang kemungkinan besar dilakukan untuk memperoleh nitrogen.
