Feeds:
Posts
Comments

Global warming and climate change become important issue nowadays, activities related with adaptation and mitigation already implemented in almost every country. One of activities concerning in mitigation is planting program or rehabilitation in critical land.

In other hand, government also become actively supporting planting program with “One Man One Tree” activities and every November 28th in Indonesia celebrate “Planting day” as annually program. According to those illustrations, Tree Grower Community (TGC), Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University organized “Planting for Future” program with theme “Green Action for Next Generation”.

This activity held on Sunday, January 31st 2010 in Mega Mendung, Bogor participated by Government, Bogor Agricultural University institution, also Mega Mendung society. Seed already prepare for this activity such as Mahoni, Gmelina, Matoa, and other commercial seed to support economy aspect for the local people.

This activity sponsored and supported by Alumni of Faculty of Forestry, Inhutani IV, Ministry of Forestry, Reklamasi Hutan Lahan Bekas Tambang (RHLBT), Bogor Regency, PT. Buana Dunindo also McDonalds. Follow up from this activity is provided cultivation or good maintenance for the seed because it will be important factor for the successful land and forest rehabilitation.

Hari ini, 28 Juni 2010 merupakan hari pertama registrasi mahasiswa baru Institut Pertanian Bogor. Open House diadakan dalam rangka menyambut mahasiswa-mahasiswa baru yang datang dari seluruh penjuru negeri. Fakultas Kehutanan tidak ketinggalan untuk menyambut adik-adik angkatan 47 dengan membuka stand yang dimeriahkan oleh 11 Lembaga Kemahasiswaan (LK) yang ada di Fahutan, salah satunya adalah Tree Grower Community (TGC).

Mari kita intip keramaian stand fahutan di Open House :

more photos >>

Berikut ini adalah foto-foto hasil kegiatan :

more photos >>

Sejalan dengan tema kegiatan Baladkuring 2010 “Selamatkan Sungai dan Daerah Aliran Sungai”, Baladkuring mengajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan Bebersih Sungai Ciliwung yang akan diselenggarakan di Kabupaten Bogor pada tanggal 29 Juni 2010 mendatang. Selain membersihkan sungai dari sampah anorganik, akan diadakan berbagai kegiatan lain untuk mengedukasi masyarakat sekitar, di antaranya pengenalan kegiatan Bio-Monitoring, Deklarasi Forum Lingkungan Bogor, dan pemberian penghargaan bagi penggiat lingkungan di Jawa Barat. Tak lupa, akan ada juga kegiatan hiburan.

Acara ini diselenggarakan dengan menggandeng beberapa komunitas lingkungan di Bogor, di antaranya: Tree Grower Community, Komunitas Peduli Ciliwung, Rimbauan Muda Indonesia, Green Earth, Printing Community, dan Lawalata IPB. Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat, Pemkab Bogor, dan Dinas terkait.

Mari sukseskan acara ini, untuk sungai yang lebih baik di Jawa Barat! :)

Hari lingkungan hidup yang jatuh pada 5 juni 2010 lalu, diperingati di Bogor dengan aksi mulung bersama di Ciliwung. Aksi ini dilakukan oleh Tree Grower Community (TGC) IPB bekerja sama dengan Komunitas Peduli Ciliwung (KPC). Titik lokasi aksi berada di bawah jembatan Jalak Harupat kelurahan Sempur Bogor, mulai pukul 07.30 sampai 10.30.

Pilihan aksi hari lingkungan hidup dengan mulung sampah Ciliwung sebenarnya sudah rutin digelar oleh beberapa komunitas lain, salah satunya KPC. istimewanya mulung pada sabtu (5/6) bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup. terlebih lagi sungai dengan panjang lebih dari 100 kilometer itu kini terkandung sampah 5 kali lipat dari biasanya.

Chintya Yuni Ardanari, koordinator aksi TGC memaparkan bahwa selain mengundang KPC, mereka sebenarnya melibatkan elemen masyarakat. baik itu warga sekitar, mahasiswa, anak SMA, Yonif 315, kelurahan, Walikota dan pejabat terkait lainnya. Dengan adanya kegiatan ini, Chintya dan panitia lainnya lebih terbuka wawasannya dan tertarik untuk terjun ke masyarakat langsung, bersama-sama membersihkan kali Ciliwung.

Senada dengan Chintya, Yuniar Safitri mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan bersama panitia adalah sebuah langkah kecil untuk turut serta membersihkan lingkungan.

Video TGC Aksi Bersih Ciliwung

Hari ini, saya mempelajari hal yang baru. Sebuah teknik yang sangat menarik yang dengan itu, kita bisa memjaga agar hutan kita tidak segera habis. Caranya adalah dengan melakukan Illegal Planting.

Di media sekitar kita, sering kita dengar berita tentang pembalkan liar, atau istilah kehutanannya adalah Illegal Logging. Illegal Logging adalah suatu kegiatan penebangan liar (tanpa izin) yang akan merugikan masyarakat, bahkan Negara. Bayangkan saja, jika kita membiarkan hal itu (Illegal Logging) terjadi, maka pasti semakin lama, hutan kita yang menurut beberapa sumber hanya mencapai 120 juta Hektar saja akan cepat musnah. Sebuah peneliti menyatakan, kecepatan kerusakan hutan Indonesia adalah salah satu yang paling cepat dan parah. Diramalkan, hutan Indonesia akan musnah (kita kehilangan hutan) tidak sampai 50 tahun lagi. Sangat ironi. Padahal hutan memiliki fungsi yang sangat besar untuk kehidupan kita. salah satunya adalah pencegah bencana alam (contohnya banjir dan krisis air di berbagai tempat di Indonesia). Maka, yang harus kita lakukan adalah menjaganya. Caranya?

Salah satunya adalah Illegal Planting

Illegal Planting adalah suatu kegiatan penanaman yang illegal (tanpa izin). Caranya adalah menanam bibit pohon atau bijinya di manapun kita bisa. Tapi, apakah itu tidak dosa? Tidak! Kegiatan ini sama sekali tidak dosa. Hanya, sedikit menyalahi aturan. Yaitu karena tidak meminta izin pemerintah. Itu saja. Bahkan, cara ini sangat baik, sehingga kita bisa tetap menjaga hutan kita (karbonnya) tetap ada.

Langkah-langkahnya :

  1. Tentukan dulu tempat penanaman (pinggir jalan, kebun rumah, hutan sekitar, lahan kosong (kecuali lapangan sepakbol, dll), tentukan waktunya(saat terbaik adalh saat musim hujan), serta tanaman yang akan kita tanam. Tanaman harus kita sesuaikan dengan kiteria seperti berikut :
    1. Cabang bagus, contohnya agathis/dammar, kenari, asam, dll.
    2. Daunnya tidak mudah rontok (ever green). jangan menanam jati di pinggir jalan, karena daunya meranggas dan akan mengotori jalan.
    3. Pohonnya tidak berbahaya, contohnya beracun (renghas), buahnya berduri (durian, saninten), tidak mudah roboh/patah cabangnya, dll.

Jika pengetahuan tentang pohon kurang, perhatikan pohon-pohon di pinggir jalan. Phon apa yang ditanam? Tanam jenis pohon yang sama.

  1. Ajak teman. Semakin banya semakin bagus, dan bersemangat.
  2. Kemudian, kita beli bibit. Bibit-bibit bisa kita dapatkan di kios tanaman, dinas kehutanan, atau tempat-tempat persemaian. harga bibit berkisar dari Rp 5.000,- sampai puluhan ribu,- tergantung pada jenis, dan ukuran bibit Jika memang tidak memungkinkan untuk membeli, alternatifnya adalah belinya secara kolektif, atau menyemai sendiri. Cara terakhir sangat tidak efektif karena menumbuhkanya menjadi lebih lama, dan mungkin lebih mahal.
  3. Tanam bibitnya. Cara menanamnya adalah membuat lubang sedalam media tanah lalu masukkan bibit ke tanah dengan terlebih dahulu copot media tanamnya, timbun sedikit demi sedikit dengan tanah, padatkan, dan bersihkan daerah sekitar bibit agar bibit tidak bersaing dengan rumput, dll. Jaraknya antara2-3 meter per bibit.
  4. Beri biopori (lubang resapan air) di sekeliling tumbuhan. Minimal, buat gundukan tanah (pengguludan) dan cekungan yang bisa menahan air.
  5. Terakhir yang paling penting : Rawat! Karena jika hanya ditanam, kemungkinan besar tanaman akan susah tumbuh, bahkan mati. Maka relakan 1-7 hari sekali menjenguk tumbuhan untuk menyiram atau memberinya pupuk.

Yang perlu diperhatikan, orang tidak akan peduli akan apa yang kita lakukan (mengganggu kita). jika tumbuhan kita mati karena dirusak orang, beri bunga tujuh rupa (agar masyarakat mengira, tumbuhan itu untuk menghindari bala bencana). Biasanya orang hanya berhenti dan bertanya. Jawab saja, “ Menanam”. Bereskan? Kalau menanyakan izin, dll, jawab, “ Tanah ini punya pemerintah”. Maka, dia tidak mengganggu lagi.

Setelah beberapa bulan saja, kepuasan akan tumbuh dalam hati kita. Sungguh!

Satu Pohon/orang/bulan. Lingkungan kita akan semakin hijau.

Lakukan dari sekarang, dan kabarkan hasilnya!

Revi Novan_Silvikultur 45

Kampus hijau alias kampus lingkungan, itulah anggapan banyak orang tentang IPB. Karena memang yang menjadi bidang studinya adalah lingkup pertanian yang erat kaitannya dengan lingkungan. seharusnya, dengan label kampus hijau tersebut IPB memiliki lingkungan kampus yang teduh dan asri dengan pepohonan rindang, pun juga lingkungan kampus yang bersih dari sampah yang berserakan di jalanan. Jika berbicara tentang kerindangan pohon, IPB pantas diacungkan jempol. Namun untuk hal sampah, IPB masih memiliki raport merah. Terbukti dengan apa yang bisa kita lihat dengan mata telanjang disaat kita menyusuri tiap jengkal jalan kampus. Sampah berbagai jenis, bentuk, dan ukuran dapat dengan mudah kita temui berserakan begitu saja. Jika ditanya siapa yang membuang sampah seenaknya di jalan-jalan kampus, jawabannya adalah yah seluruh penghuni kampus tercinta ini. mahasiswa, dosen, pegawai, termasuk saya, anda, orang disamping anda, sahabat karib anda, dan lain sebagainya. Dari sebuah obrolan ringan dengan seorang penjual gorengan/kue dan minuman teh dalam kemasan gelas yang ada di dalam kampus, sang penjual itu mengaku dalam sehari dapat menghabiskan 60 gelas untuk wadah teh yang dijualnya. Jika kita berasumsi dalam seminggu orang itu berjualan selama 5 hari berarti sampah gelas teh yang dihasilkan sebanyak 300 sampah gelas. Jika diakumulasi dalam 10 bulan, itu berarti terdapat 12000 sampah gelas wadah teh. BAYANGKAN…. Dan itu baru dari satu item sampah saja.

Padahal kampanye yang menyuarakan “BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA” atau “JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN” banyak diteriakkan oleh mahasiswa IPB kepada khalayak umum. Ketika ditanyakan kepada mahasiswa kenapa masalah sampah di kampus belum bisa kita atasi, jawaban yang sering dan mudah terlontarkan adalah karena minimnya fasilitas tempat sampah yang tersedia di lingkungan kampus IPB. Atas dasar itulah yang akhirnya membuat penulis untuk mencoba mencari tahu tentang kebenaran minimnya fasilitas tempat sampah. Dari sebuah penelitian kecil yang penulis lakukan, terbukti memang seperti itulah kenyataannya. Di halaman luar gymnasium hanya terdapat kurang dari 8 tempat sampah yang tesedia. Di halaman luar lantai dasar lingkungan fakultas kehutanan terdapat tidak kurang dari 37 tempat sampah.

Namun dengan kenyataan pahit seperti itu, apakah kemudian mahasiswa IPB menjadi halal untuk secara begajulan untuk membuang sampah-sampah yang dihasilkannya…..?! apakah lantas civitas akademika IPB cukup dengan mengkambinghitamkan fasilitas tempat sampah sebagai dalang masalah sampah kampus…?! I don’t think so. Jika saja seluruh lembaga kemahasiswaan IPB, setiap mengadakan kegiatan kemudian bersedia untuk menganggarkan sedikit dana untuk menyumbangkan tempat sampah. Dapat dipastikan dalam setahun saja, IPB akan memiliki fasilitas tempat sampah dengan jumlah yang proporsional (mudah-mudahan ini bisa jadi salah satu solusi) dan pihak rektorat pun akan serta merta memperbaiki pengelolaan sampah kampus.

Mari kita mengambil cermin dan dibawah cahaya kita pantulkan ‘diri’ kita ke cermin itu agar kita dapat juga melihat ‘diri’ pribadi terhadap apa yang telah kita lakukan dengan sampah yang kita hasilkan tiap harinya. Dengan predikat mahasiswa lingkungan, semestinya mahasiswa IPB mampu untuk mengorganisir diri (self organized) secara pribadi untuk mengelola sampah yang dihasilkannya. Secara naluriah, dengan segala teori tentang ekologi yang telah dipelajari selama kuliah seharusnya mahasiswa IPB tidak akan sungkan untuk menyimpan/menjaga sampah-sampah yang dihasilkannya hingga menemukan tempat sampah kemudian membuang sampah-sampah itu kedalamnya.

Penulis yakin dalam hati kecil tiap individu civitas akademika IPB pasti ada perasaan miris tentang kondisi dan pengelolaan sampah yang ada saat ini. Jika tiap individu dari kita tidak hanya mengkritisi fasilitas tempat sampah tetapi juga mulai saat ini mampu untuk self organized dalam mengelola sampah yang dihasilkan, dengan bersedia untuk menyimpan/menjaga sampah yang dihasilkan hingga menemukan tempat sampah lalu kemudian membuang sampah itu kedalamnya, sekali lagi penulis yakin bahwa lingkungan kampus yang bersih dari sampah yang berserakan dan lingkungan kampus yang enak dipandang mata akan terwujud di kampus hijau IPB kita. Mulai saat ini, mari kita sediakan sedikit ruang dalam tas kita untuk menampung sementara sampah-sampah yang kita hasilkan.

Bukan saatnya lagi kita berkampanye ‘buanglah sampah pada tempatnya’ atau kita meneriaki jargon ‘jangan buang sampah sembarangan’, tetapi mari kita suarakan ‘simpanlah sampah mu hingga kamu menemukan tempat sampah….!!!’.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.