Hari ini, saya mempelajari hal yang baru. Sebuah teknik yang sangat menarik yang dengan itu, kita bisa memjaga agar hutan kita tidak segera habis. Caranya adalah dengan melakukan Illegal Planting.
Di media sekitar kita, sering kita dengar berita tentang pembalkan liar, atau istilah kehutanannya adalah Illegal Logging. Illegal Logging adalah suatu kegiatan penebangan liar (tanpa izin) yang akan merugikan masyarakat, bahkan Negara. Bayangkan saja, jika kita membiarkan hal itu (Illegal Logging) terjadi, maka pasti semakin lama, hutan kita yang menurut beberapa sumber hanya mencapai 120 juta Hektar saja akan cepat musnah. Sebuah peneliti menyatakan, kecepatan kerusakan hutan Indonesia adalah salah satu yang paling cepat dan parah. Diramalkan, hutan Indonesia akan musnah (kita kehilangan hutan) tidak sampai 50 tahun lagi. Sangat ironi. Padahal hutan memiliki fungsi yang sangat besar untuk kehidupan kita. salah satunya adalah pencegah bencana alam (contohnya banjir dan krisis air di berbagai tempat di Indonesia). Maka, yang harus kita lakukan adalah menjaganya. Caranya?
Salah satunya adalah Illegal Planting
Illegal Planting adalah suatu kegiatan penanaman yang illegal (tanpa izin). Caranya adalah menanam bibit pohon atau bijinya di manapun kita bisa. Tapi, apakah itu tidak dosa? Tidak! Kegiatan ini sama sekali tidak dosa. Hanya, sedikit menyalahi aturan. Yaitu karena tidak meminta izin pemerintah. Itu saja. Bahkan, cara ini sangat baik, sehingga kita bisa tetap menjaga hutan kita (karbonnya) tetap ada.
Langkah-langkahnya :
- Tentukan dulu tempat penanaman (pinggir jalan, kebun rumah, hutan sekitar, lahan kosong (kecuali lapangan sepakbol, dll), tentukan waktunya(saat terbaik adalh saat musim hujan), serta tanaman yang akan kita tanam. Tanaman harus kita sesuaikan dengan kiteria seperti berikut :
- Cabang bagus, contohnya agathis/dammar, kenari, asam, dll.
- Daunnya tidak mudah rontok (ever green). jangan menanam jati di pinggir jalan, karena daunya meranggas dan akan mengotori jalan.
- Pohonnya tidak berbahaya, contohnya beracun (renghas), buahnya berduri (durian, saninten), tidak mudah roboh/patah cabangnya, dll.
Jika pengetahuan tentang pohon kurang, perhatikan pohon-pohon di pinggir jalan. Phon apa yang ditanam? Tanam jenis pohon yang sama.
- Ajak teman. Semakin banya semakin bagus, dan bersemangat.
- Kemudian, kita beli bibit. Bibit-bibit bisa kita dapatkan di kios tanaman, dinas kehutanan, atau tempat-tempat persemaian. harga bibit berkisar dari Rp 5.000,- sampai puluhan ribu,- tergantung pada jenis, dan ukuran bibit Jika memang tidak memungkinkan untuk membeli, alternatifnya adalah belinya secara kolektif, atau menyemai sendiri. Cara terakhir sangat tidak efektif karena menumbuhkanya menjadi lebih lama, dan mungkin lebih mahal.
- Tanam bibitnya. Cara menanamnya adalah membuat lubang sedalam media tanah lalu masukkan bibit ke tanah dengan terlebih dahulu copot media tanamnya, timbun sedikit demi sedikit dengan tanah, padatkan, dan bersihkan daerah sekitar bibit agar bibit tidak bersaing dengan rumput, dll. Jaraknya antara2-3 meter per bibit.
- Beri biopori (lubang resapan air) di sekeliling tumbuhan. Minimal, buat gundukan tanah (pengguludan) dan cekungan yang bisa menahan air.
- Terakhir yang paling penting : Rawat! Karena jika hanya ditanam, kemungkinan besar tanaman akan susah tumbuh, bahkan mati. Maka relakan 1-7 hari sekali menjenguk tumbuhan untuk menyiram atau memberinya pupuk.
Yang perlu diperhatikan, orang tidak akan peduli akan apa yang kita lakukan (mengganggu kita). jika tumbuhan kita mati karena dirusak orang, beri bunga tujuh rupa (agar masyarakat mengira, tumbuhan itu untuk menghindari bala bencana). Biasanya orang hanya berhenti dan bertanya. Jawab saja, “ Menanam”. Bereskan? Kalau menanyakan izin, dll, jawab, “ Tanah ini punya pemerintah”. Maka, dia tidak mengganggu lagi.
Setelah beberapa bulan saja, kepuasan akan tumbuh dalam hati kita. Sungguh!
Satu Pohon/orang/bulan. Lingkungan kita akan semakin hijau.
Lakukan dari sekarang, dan kabarkan hasilnya!
Revi Novan_Silvikultur 45